Jumat, 25 November 2011

Hari Guru

Sejarah Hari Guru Indonesia (25 Nop)


guru jadi petugas upacara saat HUT guru
PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan :
1. Memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia;
2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan;
3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.
Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.
Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peringatan Hari Guru di Silikuan Hulu

Sabrina Asril Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November 2011 dilaksanakan sederhana di kawasan pedalaman tepatnya di SDN 010 Silikuan Hulu, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Perayaan Hari Guru ini yang pertama kali dilaksanakan sejak sekolah itu didirikan pada tahun 1991.
PELALAWAN, KOMPAS.com - Peringatan Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November 2011 diperingati secara sederhana di pedalaman Riau tepatnya di tengah perkebunan sawit Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Jumat (25/11/2011) pagi. Hanya ada sebuah panggung kesenian dan ucapan selamat kepada para guru.

Meski demikian, peringatan ini terbilang istimewa di mata guru-guru SDN 010 Silikuan Hulu. Pasalnya, belum pernah ada perayaan hari guru sebelumnya sejak sekolah ini didirikan pada tahun 1991. Perayaan itu juga menghadirkan guru dan murid dari sekolah tetangga seperti SDN 012 Silukuan Hulu, SD Permata Soga, dan MIN 15 Lubuk Kembang Sari.

Seorang guru SDN 010 Silikuan Hulu, Rita (46), mengungkapkan, perayaan itu tak biasanya terjadi.

"Kalau Hari Guru yah biasa saja. Enggak ada perayaan di sekolah ini," ujarnya, Jumat (25/11/2011), di Ukui, Riau.
Saya terharu karena selama saya di sini belum pernah ada perayaan apa pun dari tahun 1991
-- Suharni, Guru SDN 010 Silikuan Hulu
Rita mengatakan, selama ini mereka sudah cukup bersyukur jika melihat para peserta didik mampu menamatkan sekolahnya.

"Mereka lulus 100 persen saja kami sudah bersyukur," kata Rita.

Rita mengaku, kebahagiaannya semakin berlipat ganda kala bertemu dengan mantan anak didiknya yang telah menjejak kesuksesan.

"Saya sering ditegur (disapa) sama siswa-siswa saya sekarang yang sudah besar. Mereka ingat saya saja saya senang," katanya.

Lain lagi dengan Suharni (46). Wali kelas I SDN 010 Silikuan Hulu, mengaku terharu dengan adanya perayaan tersebut.

"Saya terharu karena selama saya di sini belum pernah ada perayaan apa pun dari tahun 1991," akunya.

Suharni mengatakan, pada perayaan Hari Guru biasanya seluruh guru di Kecamatan Ukui berkumpul di kantor camat untuk melakukan upacara bendera. Setelah itu, ada pertandingan olahraga guru-guru antar sekolah. Tidak ada penyematan tanda jasa atau penghargaan guru-guru berprestasi dalam acara perayaan guru tiap tahunnya di Kecamatan Ukui itu.

Pada Hari Guru di SDN 10 Silikuan Hulu, salah seorang siswi dari SD Permata Soga, Anugrah Adisti (10) membuat para guru tertawa dan berdecak kagum saat Adisti membacakan puisi "Terima Kasih Guru".

Siswi bertubuh mungil ini dengan lantang membacakan salah satu bait puisinya.

"Saat kau sedang baik, sungguh kau laksana embun di siang hari. Tetapi kala engkau sedang marah, aku jadi takut," ucapnya.

Sontak, kalimat kedua itu membuat para guru terkekeh. Saat ditanyakan apa makna guru bagi Adisti, siswi kelas IV itu dengan polos mengatakan, "Guru itu laksana bidadari," kata Adisti.

Ucapan itu memang tak bisa ditukar materi. Namun, ucapan itu memiliki makna dalam bagi para bapak ibu guru yang sudah puluhan tahun mengajar di pedalaman hutan Riau ini.

Guru-guru yang ada di kecamatan Ukui itu memang merupakan penduduk transmigran dari Pulau Jawa. Mereka lah yang merintis pendidikan di lokasi-lokasi transmigrasi di Ukui. Meski serba terbatas dan harus menempuh medan yang berliku dan beraspalkan tanah, rupanya mereka tak menyerah.

Komimah, guru MIN 05 Lubuk Kembang Sari, mengatakan, akan terus mengabdikan hidupnya sebagai guru.

"Insya Allah sampai akhir hidup saya, saya akan terus jadi guru. Tidak ada penyesalan menjadi guru," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar